Kedewasaan Sosial

Oleh Iu Rusliana

RASANYA semakin nyata, tengah beroperasi mesin kemarahan dan curiga oleh kekuatan yang kasat mata. Ombak adu domba terus mengombang-ambing buih emosi publik, sehingga lebih fokus kepada hal yang aksidensi (atribut) dibandingkan esensi (hakikat).

Perdebatan dari satu diskursus, bergeser ke diskursus berikutnya. Terakhir istilah “pribumi” yang mendominasi. Sebegitu besarkah kebencian, sehingga tak ada sedikit pun ruang kebaikan?

Sikap provokatif, reaktif, nalar egosentris dan kecenderungan untuk berkelahi baik secara fisik maupun di media sosial dan media massa begitu vulgar. Kebencian menguras tenaga dan dibiarkan meluas menebar ke seluruh komponen anak bangsa.

Kesabaran sosial absen, jauh dari sikap ingin berdamai, menahan diri dan memaafkan. Ibarat rumput yang kering, begitu mudah terbakar. Masyarakat pun terkesan menjadi kekanak-kanakan. Seorang kawan  yang merupakan pengusaha bahkan bercerita, betapa ia merasa muak kalau sudah membaca media sosial, dan ingin melempar smartphone-nya, karena tiada hentinya nalar kemarahan, dengan logika hitam-putih (oposisi biner) dan perdebatan terbuka penuh curiga di ruang publik terjadi. Bukannya mencerahkan, yang terjadi adalah menyebarluasnya benci dan dendam. Situasi yang sangat menyedihkan dan bangsa ini harus benar-benar belajar untuk dewasa secara sosial.

Ahli psikologi sosial secara umum memberikan berapa penanda kedewasaan. Pertama, sadar bahwa kematangan sosial itu proses yang harus dikuatkan, dengan belajar, bukan pemberian gratis. Pengalaman, tempaan, sikap terbuka menerima informasi dan pergaulan luas menjadi faktor terbangunnya kematangan sosial. Rumah, sekolah dan perguruan tinggi harus menjadi kawah candradimuka dalam proses pendewasaan secara individual, agar dewasa secara sosial.

Kedua, mampu mengelola diri. Punya prinsip, tidak mudah dipengaruhi oleh lingkungan. Ibarat ikan di laut yang tak ikut asin, walau air laut itu asin. Bergaul bukan berarti dapat dipengaruhi oleh hal yang negatif. Agama, nilai dan norma moral yang berlaku dalam masyarakat menjadi prinsip hidup utama.

Ketiga, dapat mengevaluasi dan mendengarkan pandangan  berbeda. Mau menerima kritik dan menyaring informasi. Mana hoax, berita bohong, mana yang beritanya benar. Saleh  berinformasi, mampu mengkritisi, menyaring dan menahan diri untuk tidak menyebarkan informasi yang masih diragukan kebenarannya.

Keempat,  bersikap sabar dan fleksibel dalam keseharian. Tentu saja, potong kompas bukan cara, apalagi ingin menang sendiri. Mengikuti proses dengan tekun dan bersedia belajar. Memahami bahwa kesanggupan mengikuti perubahan yang begitu cepat dengan ajeg pada nilai yang dianut adalah wajib.

Kelima,  menyadari tidak selamanya menjadi pemenang dan mau belajar dari kesalahan. Saat didera hal negatif, tidak mencari kambing hitam. Mampu menjadikan kemalangan sebagai pelajaran dan mengubahnya menjadi energi kebaikan.

Keenam, melakukan pilihan rasional bukan emosional. Bertindak berdasarkan fakta dan data, bukan isu atau gosip semata. Bahwa emosi tak pernah lepas dari setiap jiwa manusia, tapi menimbang baik buruk dengan akal sehat merupakan prinsip dasar. Tidak mudah terpancing emosi, berusaha tenang dan bersikap waras.

Ketujuh, mampu mengelola kesabaran dan kemarahan. Tahu kapan dan dimana harus bersabar atau meluapkan amarah. Emosi diaduk-aduk, pasti membutuhkan sabar dan menahan amarah. Itu semua harus dikelola dengan baik, sehingga dilakukan pada saat dan tempat yang tepat.

Kedelapan,  dapat menjaga perasaan orang lain dan membatasi diri untuk tidak egois. Jalanan, stadion, pasar dan berbagai tempat manusia tumpah ruah menjadi penanda dimana sikap egois itu dipertontonkan.

Manusia dewasa memahami bahwa perlunya sikap tepo seliro, ngaragap hate, mawas diri, jika kita diperlakukan begitu, bukankah akan sakit hati, karena itu janganlah berbuat semena-mena.

Kesembilan, memiliki kemampuan membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Ketika keinginan menjajah dan mengendalikan hasrat, maka gunung pun akan diurug dan digali, lautan pun akan direklamasi. Korupsi lahir dari berlebihnya keinginan dibandingkan kemampuan. Akibatnya, uang rakyat dicuri agar nafsu terpenuhi. Manusia dewasa akan selalu sederhana, secukupnya dan tak berlebihan.

Kesepuluh, sanggup mengatasi tekanan. Tentu saja, tak semua proses itu berjalan dengan mudah, lancar dan murah. Adakalanya rumit, bertele-tele dan seolah tak berujung. Perlu napas panjang perjuangan dan kekuatan emosi. Di sisi lain, tuntutan sosial selalu tinggi. Selalu tercipta ruang negosiasi dan tawar menawar. Ibarat di pasar tradisional, penjualan dan pembelian berjalan, sebagaimana kebutuhan dan tuntutan bernegosiasi dalam kehidupan. Dalam kondisi seperti itu, sikap lentur namun ulet merupakan modal dasar.

Kesebelas, mampu berkomunikasi secara terbuka sebagai alat menyelesaikan persoalan antara manusia dan kelompok. Tak ada yang tak selesai kalau sudah dibicarakan. Arena publik adalah ruang negosiasi dan butuh kelenturan untuk  bisa bertahan dan memenangkan setiap negosiasi itu.

Rebutan tulang

Seperti manusia (individu), masyarakat pun mulai mengalami kelelahan, atau mungkin lebih tepatnya apatisme. Suasana ini dipicu oleh berbagai sebab. Sebagian besar oknum politisi, pemimpin publik, aparat penegak hukum, agamawan dan tokoh masyarakat seolah kehilangan peran, bukan lagi penyejuk, peredam dan penebar damai yang tegak bersama keadilan, malah menjadi bagian dari proyek penebar kebencian. Masyarakat sipil tengah mengalami pelemahan, soliditas sosial tercabik, integrasi sosial belum kohesif dan potensi konflik sosial selalu terbuka lebar.

Politik belah bambu, yang satu diangkat, yang satu diinjak. Ormas-ormas Islam besar dibenturkan satu sama lain. Dengan vulgar ormas Islam tertentu menyerang ormas Islam lain. Sebagai generasi muda Muslim, kondisi ini sungguh sangat menyedihkan. Bila motifnya urusan perut semata, rendahlah moral dan pendek pikiran.

Kain tanah air Indonesia itu kini sedang sobek. Bukan karena telah rapuh, tapi dirusak oleh kelompok kepentingan yang tak ingin bangsa ini kuat dan berdaulat. Delapan puluh sembilan tahun lalu, semangat satu bahasa, bangsa dan tanah air disepakati dan dideklarasikan para pemuda. Semoga semangatnya kembali menjadi ruh kebangsaan.

Dengan segenap kesadaran, mari bersama membangun kedewasaan sosial. Jangan pernah sekalipun mau rebutan “tulang”, sementara “oknum elit” negeri ini sibuk membagikan kekayaan alam untuk kelompoknya dan membagikan kue anggaran negara untuk komunitasnya. Rengkuh dan satukan kembali jatidiri bangsa dengan Pancasila dan nilai-nilai agama. Jangan sampai kita tercatat sebagai generasi pewaris kegagalan. Wallaahu’alam 

Sumber: https://www.pikiran-rakyat.com