Haedar Nashir, Sang Peredam Badai

Oleh: A FAHRIZAL AZIZ

Sebagai organisasi besar, Muhammadiyah tentu punya nilai tawar tersendiri.

Menarik jika menyimak sikap Ketua Umum PP Muhammadiyah, Dr. Haedar Nashir, yang tetap tenang di tengah dua magnet politik yang begitu kuat. Padahal, sebagai ketua umum sebuah ormas besar, jelas banyak sekali bisikan dan mungkin “godaan” kepada tokoh berdarah Sunda ini.

Sebagai organisasi besar, Muhammadiyah tentu punya nilai tawar tersendiri. Apalagi, selain basis massa, Muhammadiyah punya banyak “sumber” yang bisa dimanfaatkan, yang belakangan baru disadari Muhammadiyah sendiri.

Karena itu, jelas banyak sekali yang mendekati Muhammadiyah dengan bermacam kepentingannya. Meski perlu juga disadari, Muhammadiyah tidak bisa berdiri sendiri, perlu banyak jaringan agar amal usahanya terus bangkit dan berkembang, termasuk jaringan politik.

Posisi Haedar Nashir kian berat sebab situasi politik sekarang yang serba terpola dalam dua kubu besar, dan salah satu kubu melibatkan tokoh penting sebuah Ormas Islam. Karenanya tak sedikit yang menunggu serta menanti, bagaimana sikap Muhammadiyah? Apakah akan jadi bandul penyeimbang dengan merepat ke kubu sebelah atau bagaimana?

Sosok Haedar Nashir kian disorot, dinantikan, dan dielu-elukan pendapat-pendapatnya. Bahkan tak jarang yang menyebut Haedar Nashir memilih tiarap, menjauh dari kerumunan. Sekalinya keluar pendapat, selalu bersifat moderat dan umum, tidak spesifik seperti seniornya Prof. Amien Rais yang jelas dalam menentukan dukungan.

Apalagi, pengaruh Prof. Amien Rais di akar rumput juga masih kuat. Desakan serta riak suara akar rumput tentu terus terngiang di telinga Haedar Nashir selaku “Imam besar” Muhammadiyah. Terlebih selama ini mayoritas warga Muhammadiyah teridentifikasi lebih condong mendukung calon tertentu.

Namun di lapangan, tak sedikit juga kader, warga, atau simpatisan Muhammadiyah yang mendukung calon satunya, yang ini makin memberikan gambaran betapa berat berada di posisi ketua umum Muhammadiyah di tengah tarikan dukungan politik yang sedang terjadi.

Apalagi, Haedar Nashir adalah sosok yang terbuka dan akomodatif. Tidak mau menggunakan cara-cara politik dengan misalnya, menyingkirkan orang di struktural hanya karena berbeda sikap dan pandangan.

Maka tidak ada kasus kader A atau pimpinan B dicopot karena menjadi tim kampanye pasangan capres cawapres, atau karena berbeda pandangan dengan ketua umum.

Maka, sepertinya sulit mengharapkan akan keluar statemen dari Haedar Nashir yang membahagiakan tim kampanye atau paslon yang sedang berkompetisi. Sikap dan pandangan Haedar Nashir sepertinya akan tetap moderat hingga musim pemilu usai dan badai politik mereda.

Sikap dan pandangan Haedar Nashir sebenarnya sejalan dengan sikap Muhammadiyah secara organisasi. Bahwa secara kelembagaan Muhammadiyah tidak berpolitik praktis. Karena itu bersikap moderat dan menjadi “wasit” dari dua kubu yang sedang mengeras.

Mungkin banyak yang mengira bahwa Haedar Nashir memilih main aman, dan santai. Padahal sebagai ketua umum ormas besar, jelas tidak mudah bersikap demikian. Sebab momentum politik juga sekaligus momentum untuk meraup simpati, dengan misalnya memanfaatkan arus isu yang tengah berkembang.

Dalam dua aksi massa besar bertajuk 212 misalnya, Haedar Nashir tak nampak masuk kerumunan dan memanfaatkan momentum tersebut. Namun sekaligus juga tidak antipati. Tetap proporsional dan moderat. Mengambil sikap seperti ini jelas tidak mudah.

Lalu bagaimana Haedar Nashir menyikapi riak suara akar rumput, dengan tanpa mengesampingkan realitas yang terjadi? Karena itu hingga saat ini belum, dan semoga tidak terjadi, PWM atau PDM tertentu menolak PP. Juga belum, dan semoga tidak terjadi pula, ada tokoh daerah Muhammadiyah yang kontras bahkan antipati dengan Haedar Nashir atau pimpinan pusat.

Ini menjadi ujian konsistensi bagi Muhammadiyah sebagai organisasi, juga bagi Dr. Haedar Nashir sebagai pribadi, selaku nahkoda Muhammadiyah. Maka sikap tenang beliau ibarat sedang menaklukkan badai besar di lautan. Nahkoda harus tetap tenang dan fokus mengemudikan kapal, agar bisa melalui badai.

Blitar, 29 Januari 2019

Sumber: https://geotimes.co.id