Alegori Gua Plato dan Kesalehan Berinformasi

Oleh Iu Rusliana

Alkisah, beberapa orang hidup di dalam gua. Kaki tangannya dirantai sehingga susah bergerak. Suatu saat, cuaca cerah, sinar matahari masuk gua. Kaget dan takutnya mereka ketika ada makhluk hitam yang bergerak seolah mendekati. Padahal itu adalah bayangan sendiri.

Kisah ini dimodifikasi dari alegori guanya Plato, filosof Yunani yang pikirannya hingga kini masih berpengaruh. Menurut Plato, yang membedakan filosof dengan manusia awam alam adalah pikirannya sederhana, tak mampu menangkap makna sejati. Bayangan hitam yang bergerak di dinding gua diyakini sebagai kebenaran, padahal hanya doxa –opini sesat yang akan membuat jiwa sengsara.

Alegori gua ini bermanfaat bagi kita untuk keluar dari kabut pekat hoax yang tengah menguasai. Agar pikiran dan jiwa waras, menemukan kebenaran sejati. Jikapun di media massa dan media sosial telah tampil para nabi pemikiran, mereka tak ubahnya kaum Sophis yang pandai bersilat lidah, padahal menyesatkan. Eikasia, begitulah Plato menyebutnya, pendapat tentang kenyataan yang disampaikan orang lain yang dinilai ahli. Padahal pendapat pakar itu boleh jadi keliru. Kemudian Plato mengingatkan agar kita berusaha menemukan kebenaran sejati, noesis, pengetahuan dari penglihatan jiwa.

Menemukan kebenaran sejati akan memberi bahagia di hati. Tidak boleh taklid. Bilamana mendapatkan informasi harus menanda kurung, tidak mudah menerima begitu saja. Diperiksa terlebih dahulu kesahihannya. Begitu ahli fenomenologi mengingatkan.

Kita hidup pada era para pakar kehilangan otoritasnya. Semua orang menjadi seolah-olah ahli dan percakapan menjadi sesuatu yang hampa. Kalau bukan upaya terbuka menerima kebenaran, apalagi cara terbaiknya. Arus hoax bagai air bah disebarkan. Menu sehari-hari kita selalu tentang kebencian, ejekan, dan dukung mendukung. Ruang publik miskin gagasan. Jauh dari cita-cita Jurgen Habermas, membangun masyarakat komunikatif. Di mana festival gagasan tercipta, masyarakat bersikap etis dan kritis, kemajuan terlaksana dan dirasakan bersama.

Kini, Pilpres 2019 seolah telah membelah masyarakat menjadi dua kutub berbeda. Menjadi sulit untuk berada di tengah. Pilihannya hanya dua, menjadi “cebong” atau “kampret”. Begitulah ejekan tentang para pendukung calon Presiden yang tersaji dan terbentuk wacananya. Ujaran kebencian tak terhindarkan menjadi menu harian.

Media sosial terkesan menjadi alat yang mendorong terciptanya sikap antisosial. Butuh vaksin yang membuat nalar publik waras, komunikatif, dan harmonis. Wabah hoax harus diantisipasi dengan imunisasi, karena tak boleh kebencian perbedaan dukungan ini diwariskan ke generasi berikutnya. Pilihan boleh beda, tapi persahabatan dan persatuan jauh lebih utama.

Jangan sampai, kebencian, keraguan kepada institusi resmi negara, dan klaim kebenaran surga-neraka pilihan politik meluas dan menghujam pada sanubari. Apalagi seolah ada skenario masif mendegradasikan kepercayaan kepada institusi resmi penyelenggara pemilu yaitu Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu).

Politik kita harus dirayakan dengan gembira, dengan festival gagasan yang cerdas, visioner, dan memastikan pembangunan negeri ini bisa terealisasi. Kewarasan harus diteguhkan. Berhati-hatilah karena kini agama semakin menjadi bagian tak terelakkan untuk saling mengkafirkan satu sama lain. Pertarungan klaim kesalehan, surga dan neraka nyata terasa. Seolah pilihan nomor calon Presiden-Wakil Presiden itu menentukan tiket masuk surga atau neraka. Mari menjaga diri dan kembalilah ke titik keseimbangan kewarasan berpikir.

Zaman kekacauan kebenaran telah nyata. Semuanya boleh, begitulah fatwa dari filosof Paul Feyerabend. Tak ada dominasi metodologi dan otoritas ilmuwan pun hilang. Ilmu pengetahuan bukanlah satu-satunya bentuk pengetahuan yang paling unggul dibanding bentuk lainnya.

Semuanya kini pertarungan wacana. Begitu sabda filosof Perancis Michel Foucault, yang akhirnya membentuk pengetahuan dan kuasa. Dengan pengetahuan, manusia bertindak. Menguasai pengetahuan dan opini berarti membangun kuasa atas manusia. Kuasai akal pikirannya, maka manusia akan dikendalikan. Kemampuan mengendalikan opini akan menggerakkan publik untuk mengikuti pesan dalam wacana itu.

Imunisasi Hoax

Sangat mendesak untuk melakukan imunisasi hoax. Kesalehan informasi adalah merek dari vaksin hoax. Sejumlah rukun harus dipenuhi. Pertama, tunda, tanda kurung semua informasi penting yang diterima. Jangan mudah percaya begitu saja, apalagi langsung mengomentari dan bersikap.

Kedua, memeriksa dengan teliti referensi, rujukan, sumber berita dan apa yang diinformasikan. Dalam khazanah ilmu takhrij hadis dikenal istilah sanad, rawi, dan matan. Secara sederhana, sanad mengandung makna keterkaitan informasi dari informasi sebelumnya. Apakah mungkin informasi ini benar-benar terhubung atau tidak? Misalnya, anak remaja yang kini usianya 20 tahunan menyampaikan informasi tentang peristiwa demonstrasi era Reformasi. Dari berita yang dapat dibuka di internet dan Youtube mungkin iya dapat diketahui, tapi remaja itu bukan pelaku langsung peristiwa, tidak mengetahui secara persis apa yang terjadi.

Rawi (periwayat) adalah sebutan bagi penyampai informasi. Dalam ilmu hadis, kualitas individu yang saleh, terjaga lisan dan hatinya dari perbuatan bohong adalah syarat mutlak. Kalau mendapat informasi dari lembaga yang memiliki otoritas. Matan adalah isi informasi yang disampaikan oleh periwayat. Informasinya penuh dengan kebencian dan fitnahkah?

Ketiga, mampu menahan diri untuk menyebarkan semua informasi yang diterima. Sikap teliti dan diam bilamana belum tahu benar harus menjadi pilihan, agar terhindar dari kerusakan. Seperti diingatkan oleh sahabat Ali r.a: “Andai orang yang tidak tahu itu diam, maka akan lunturlah perpecahan.”

Berusaha keras agar tidak tenggelam dalam arus besar hoax menjadi tugas bersama. Orang waras harus bekerja keras untuk terus menyuarakan sikap kritis, kedamaian, persatuan, dan kemajuan bangsa ini. Sikap dan pilihan politik boleh berbeda, tapi janganlah jadi bagian dari proses memecah belah bangsa. Hindari ujaran kebencian. Jadilah masyarakat komunikatif, di mana ilmu pengetahuan, etika publik, dan sikap kritis menjadi budaya bersama. Bangun kedewasaan politik dan pastikan akal sehat memandu kita.

Iu Rusliana dosen Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Sumber: https://news.detik.com/