Tipu Muslihat

Oleh: Iu Rusliana

Peristiwa ini terjadi pada tahun ketiga hijriyah. Utusan dari suku ‘Udhdhal dan Qarah dating menemui Rasulullah Saw. Mengabarkan tentang berkembangnya Islam di daerah mereka dan membutuhkan guru. Diutuslah enam orang sahabat yaitu, Martsad bin Abi Martsad, Khalid bin Al-Bakir, ‘Ashim bin Tsabit, Khubaib bin ‘Adi, Zaid bin Al-Datsanah dan Abdullah bin Thariq.

Tiba di daerah antara Asfan dan Makkah, kawasannya Bani Lihyan, ternyata hampir 100 pemanah dari Bani Lihyan membuntuti utusan tersebut. Peperangan terjadi dan Ashim sebagai pimpinan rombongan syahid dengan tujuh anak panah menancap di tubuhnya. Dua yang masih hidup, yaitu Khubaib dan Zaid.

Khubaib ditawan oleh Bani Harits. Saat ditawan di rumah Al-Harits, dia meminjam pisau cukur kepada salah satu putri Al-Harits. Saat Khubaib mencukur, anak dari putri Al-Harits itu ternyata merangkak ke Khubaib. Kemudian sahabat Rasulullah Saw itu mendudukannya di atas pahanya. Cemas dan takutlah putri Al-Harits melihat anaknya ada digenggaman tawanan ayahnya.

Islam mengajarkan akhlak yang sangat mulia. Khubaib berkata: “Apa kamu takut aku akan membunuhnya? Insya Allah aku tak akan melakukannya.” Menjelang eksekusi, Khubaib meminta untuk shalat terlebih dahulu. “Andaikan bukan karena kalian akan mengira aku takut mati, pasti akan aku tambah shalatku.”

Tragedi ini dikenal dengan dengan istilah tragedi Raji’. Rasulullah Saw sangat terpukul dengan kejadian itu. Selama sebulan, pada saat shalat subuh, beliau selalu membaca qunut nazilah dan berdoa agar Allah swt membalas pengkhianatan tersebut.

Demikianlah, dalam perjuangan dakwah, pengkhianatan atas komitmen perjuangan bukan hal mustahil. Tapi Rasullah Saw mengajarkan bahwa sepedih apapun rasa sakit, sebesar apapun marah, tak boleh kesumat menyertai setiap putusan. Tidak boleh membalas segala sesuatu melebihi kadarnya. Bahkan akan lebih baik bila dimaafkan.

Dalam riwayat lain, tentang pentingnya komitmen dan upaya menjaga perjanjian, walau situasi sedang dikhianati. Dikisahkan sahabat ‘Amr Al-Dhamri yang bisa kabur dari penyergapan dan penghianatan Bani ‘Amir, berpapasan dengan dua orang musyrik dan dikira berasal dari Bani ‘Amir. Karena itu dia kemudian membunuh dua orang musyrik itu, karena ketidaktahuannya. Padahal Rasulullah Saw telah melakukan perjanjian bahwa mereka dilindungi. Teladan kita semua, Muhammad Saw pun membayar diyat atas pembunuhan itu.

Yakinilah, tipu muslihat tak pernah menang, karena Allah Yang Maha Adil berjanji akan memberikan kehinaan bagi pelakunya, kemuliaan bagi mereka yang dicurangi. Dalam Alquran surah Ash Shaaffat ayat 89 dinyatakan: “Mereka hendak melakukan tipu muslihat kepadanya, maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina.”

Kini, bentuk tipu muslihat dan penghianatan lebih besar dan luas lagi, karena menggunakan mesin hoax. Disebarkan dengan luas, fitnah keji, lebih kejam daripada pembunuhan. Ketika telah menyebar, tak ada kesempatan bagi korban hoax untuk membela diri. Hukuman diberikan tanpa disadari oleh korban, jauh dari keadilan.

Fâsiq, label yang diberikan Alquran kepada orang yang menyebarluaskan berita bohong, mengakibatkan kerusakan, konflik dan keresahan sosial. Semoga Allah Yang Maha Pengampun melindungi kita dari godaan menyebarkan hoax. Waspada pada hoax merupakan upaya menghindari tipu muslihat dan penghianatan yang dapat menghancurkan ukhuwwah umat. Wallaahu’alam

Sumber: https://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/19/02/11/pmqzpk313-tipu-muslihat