Wasathiyah Islam: Makna dan Kontekstualisasi dalam Membangun Peradaban Ummat dan Bangsa

Presentasi Sesi 1 Pengkajian Ramadhan 1440/2019 PP Muhammadiyah di ITB Ahmad Dahlan Jakarta, 12 Mei 2019
Oleh: Prof. Dadang Kahmad, Ketua PP Muhammadiyah
Wasathiyah itu bermakna tengahan, asal kalimatnya wasatha yaitu tengahan atau moderat, atau adil. Jadi, kita dengan berbagai kelompok lain jangan bertengkar walaupun berbeda. Yang harus terjadi adalah fastabiqul khairat atau saling berlomba-lomba dalam kebaikan.
Inilah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW denga Piagam Madinah, yang isinya mencakup 47 pasal. Setelah dibaca, ternyata 1500 tahun lalu Nabi sudah mencontohkan untuk berfikiran multikultural. Kalau kita bandingkan dengan berbagai pedoman Muhammadiyah sikap wasathiyah itu sudah tercermin.
Ada enam konsep: masyarakat yang berhidmat, pertengahan, masyarakat yang satu dalam kebenaran, berorientasi pada nilai-nilai, yang selalu membaca ayat-ayat Allah dan beriman kepada Allah, dan mereka yang bersahaja juga proporsional.
Ada delapan karakter dalam Piagam Madinah: tauhid, persatuan, persaudaraan, persamaan, pengakuan kebinekaan, toleransi, demokrasi, dan hak asasi manusia.
Nabi Muhammad SAW juga mengakui terhadap keberadaan orang-orang Yahudi, Nabi akan tetap menyantuni asalkan mereka tidak berbuat dhalim dan jahat. Sikap yang ditunjukkan oleh Nabi ini sangat moderat.
Jadi, ada sistem sosial yang saling tolong-menolong, seperti bangunan yang saling memperkuat. Tidak saling memusuhi. Kemudian, persoalan yang menyangkut urusan bersama harus diputuskan secara demokrasi, hukum berlaku untuk semua.
Setiap masyarakat dalam sebuah bangsa maka harus berorientasi kepada pembangunan bangsa. Di Muhammadiyah, masyarakat islam adalah kebertuhanan beragamaan, beradab, bermusyawarah, berkemajuan.
Sikap dan perilaku islam wasathiyah sudah tercantum dalam berbagai pedoman Muhanmadiyah, baik tentangg toleransi maupun orientasi berbuat baik. Termasuk dalam hubungan sosial, harus berprinsip pada rasa kemanusiaan dan rasa persaudaraan, dan tidak berorientasi pada pengrusakan.
Orang Muhammadiyah boleh menganggap diri lebih benar, tetapi kita harus penuh kasih sayang. Jangankan menjadi orang benar tetapi malah penuh kebencian.
Kenapa kita harus bersikap kasih sayang kepada orang lain, karena kita harus mengaku orang lain, kesetaraan, toleran, saling menghormati, kerjasama, dialog, dan fastabiqul khairat.

Aktualisasi wasathiyah adalah menghadirkan kebahagiaan bagi orang lain, membebaskan penderitaan orang lain, bahagia dalam kebahagiaan orang lain, memperlakukan semuanya dalam kasih yang sama.

penulis: Roni Tabroni
editor: Arief Budiman Ch.