Merawat Optimisme

Oleh: Iu Rusliana

Manusia itu kadang dihinggapi rasa takut dengan gelap, gagal dan ketakmampuan. Telah lupa bahwa hakikatnya memang kita ini lemah dan tak memiliki kesanggupan. Tugas manusia hanya memperjuangkan sekuat jiwa dan badan. Jalan terang, sukses dan mencapai kehebatan sepenuhnya karena Tuhan sebagai pemberi kekuatan.

Ingatlah, orang beriman selalu optimis, tak ada ruang pesimis dalam hatinya. Apabila menghadapi kesulitan, dipahami sebagai latihan untuk naik kelas ke level yang semakin tinggi tingkatannya. Diperhatikannya waktu, kondisi jiwa, dijaganya anggota badan, agar jangan sampai terucap kalimat yang tak pantas atau bersikap di luar batas.

Yakin sepenuh hati, Allah Swt Maha Pemurah. Mintalah selalu kepada yang Maha Kuasa. “Allah hendak memberikan keringanan kepadamu dan manusia dijadikan bersifat lemah.” (QS. An-Nisa: 28).

Sesungguhnya Allah Swt tidak akan memberikan ujian kepada seseorang melebihi kadar kemampuannya. Telah disiapkan kemudahan bersamaan dengan datangnya kesulitan. “Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan,” (QS. Al-Insyirah: 5-6).

Seberat apapun penderitaan hidup, rawatlah Optimisme untuk meraih rahmat-Nya. Berharaplah tiada henti mendapat kemurahan Allah Yang Maha Pengasih. Sikap mental demikian itu akan mengantarkan pada kebahagiaan hidup yang dicita-citakan. Berputus asa dari rahmat-Nya akan menjadikan diri menjadi pribadi yang pesimis, gamang dan pecundang dalam menjalani kehidupan.

Jangan sempitkan peluang dan kesempatan. Seolah tak mungkin, padahal tak ada yang tak mungkin bagi Allah Swt. Bergantung dan memohonlah selalu kepada-Nya. Sebagai wujud ketidakberdayaan, lemah dan ketaktauannya manusia di hadapan Allah. Memohon kepada Allah Swt berarti kita mengakui kekuasaan-Nya yang tak terbatas dalam melindungi manusia dari segala mara bahaya. Tidak ada ketundukan dan penyerahan diri, kecuali hanya kepada-Nya.

Sesungguhnya Allah Swt mencintai manusia yang memohon dan meminta hanya kepada-Nya. Sebaliknya Allah sangat membenci orang yang meminta selain kepada-Nya. Ibn Atha’illah Al-Sakandari berkata, “Sesungguhnya cukuplah ketaatanmu menjadi jalan ridha Allah kepadamu. Ketika engkau menyampaikan permohonanmu kepada Allah, yakinlah bahwa Dia akan mengabulkan permohonanmu itu.” Yakinlah selalu pada pertolongan-Nya sambil terus berusaha sekuat tenaga mewujudkan mimpi dan cita.

Ingatlah jika meminta tolong pada manusia, mereka akan bosan, bahkan marah. Tapi apabila meminta tolong pada Allah Swt, Dia Maha Kuasa, sangat dekat dan menyukai hamba-Nya yang rajin berdoa. Firman-Nya,” Berdoalah keoada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.” (QS. Al-Mu’min: 60).

Dalam kitab Lathaif-nya, Imam Al-Qusyairi mengungkapkan bahwa maksud ayat tersebut adalah, “Mohonlah kepada-Ku dengan penuh ketaatan, niscaya Aku mengabulkan permintaan kalian disertai pahala dan kemuliaan. Disebutkan pula bahwa maksud ayat tersebut adalah, “Kalian berdoalah kepada-Ku tanpa diiringi sikap lalai dan malas, niscaya Aku mengabulkan doa kalian tanpa ditunda-tunda.”

Jangan sia-siakan doa tanpa diiringi dengan usaha. Pun sebaliknya, usaha tanpa doa hanya akan menimbulkan kecewa. Oleh karenya, memohonlah dan sandarkan seluruh beban kepada-Nya. Hanya Allah Swt yang akan memenuhi segala kebutuhan kita. Wallahu a’lam.

Sumber: https://khazanah.republika.co.id/berita/pyaivq313/merawat-optimisme