Inner Power Umat Islam Indonesia

Menyongsong Konggres Ummat Islam Indonesia ke VII yang akan diselenggarakan akhir Februari tahun 2020 ini, pencermatan salah satunya terhadap kekuatan internal umat Islam penting dilakukan. Ini bisa dijadikan sebagai salah satu modal dasar umat untuk menghadapi atau menyongsong masa depan umat Islam di Indonesia. Berikut beberapa bagian dari kekuatan umat ini.

Demografi dan Potensi Ekonomi   

Sebagai salah satu bentuk Rahmat yang dicurahkan oleh Allah, adalah bahwa mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim.  Ini juga yang telah menjadikan Indonesia sebagai negara bangsa muslim terbesar di dunia hari ini mengalahkan bangsa tempat pertama kalinya Islam diturunkan.

Dengan mendasarkan diri kepada data yang disediakan oleh Global Religious Future 2019 Viva Budi Kusnandar dalam “Databoks,” menjelaskan bahwa jumlah penduduk muslim Indonesia pada tahun 2010 sebanyak 209,12 juta jiwa atau setara 87,17 persen dari total penduduk yang mencapai 239,89 juta jiwa. Sepuluh tahun kemudian, yaitu pada tahun 2020 saat ini,  diprediksikan akan mengalami penambahan menjadi  229,62 juta jiwa.

Pada tahun 2050, jumlah ini meningkat diperkirakan menjadi  256.820 juta  jiwa meskipun dari sisi persentase sebetulnya mengalami penyusutan menjadi 86,39 persen. Pew Research Centre, sebuah lembaga riset di Washington berdiri tahun 2004,  memang memperkirakan bahwa pada tahun 2050 India justru yang akan menjadi negara dengan penduduk muslim terbesar dunia dengan jumlah 310,6 juta jiwa meskipun mayoritas penduduk India tetap Hindu.

Indonesia diperkirakan akan berada di peringkat ketiga dengan populasi muslim 256.820 juta, atau di bawah Pakistan yang menyodok ke posisi kedua.

Menurut proyeksi Pew Research, pada tahun 2050 akan ada dua agama besar, yaitu Islam yang dianut oleh  2,8 miliar, atau 30 persen dari populasi dan Kristen dengan penganut 2,9 miliar, atau 31 persen. Dua agama besar dunia ini memang mengalami pertumbuhan yang sangat signifikan meskipun kenaikan jumlah muslim dunia lebih cepat dibandingkan dengan penganut Kristen. Komposisi ini membalikkan suasana hari ini dimana muslim masih menjadi warga terbesar dunia.

Gambaran demografi muslim di atas akan membawa kepada diskusi soal bonus demografi. Cukup optimiskah umat Islam menyongsong masa dengan melihat pertumbuhan demografis muslim di atas?

Secara umum, Indonesia memang telah diperhitungkan akan mendapat anugerah bonus demografi tahun  2020-2035. Puncaknya terjadi pada 2030 karena jumlah kelompok usia produktif (umur 15-64 tahun) pada tahun itu akan jauh melebihi kelompok usia yang  tidak produktif (anak-anak usia 14 tahun ke bawah dan orang tua berusia 65 ke atas).

Peran angkatan muda muslim dengan demikian sangat vital termasuk dalam bidang ekonomi. Jika kita perhatikan gambaran pasar muslim global, kita dapatkan pandangan menarik dari Ogilvy. Dia mengatakan bahwa populasi pasar global muslim mencapai sekitar 1,6 miliar orang. 1/3  dari mereka  usianya belum mencapai  15 tahun, sementara 2/3 nya berusia di bawah 30 tahun. Generasi muslim usia produktif ini tentu akan sangat menentukan arah pasar.

Indonesia, sebagai bangsa muslim terbesar mempunyai kedudukan yang unik terutama dalam kaitannya dengan pengembangan produk-produk yang dibutuhkan oleh generasi muda muslim, salah satunya ialah fashion. Data Organisasi Konferensi Islam (OKI), atau Robithoh Alam Islamy menggambarkan bahwa ekspor fashion Muslim Indonesia saat ini mencapai peringkat ketiga dengan nilai 7,18 miliar dolar AS, setelah Bangladesh (22 miliar dolar AS) dan Turki (14 miliar dolar AS).

Pertumbuhan ekonomi di negara-negara muslim, serta munculnya pasar halal potensial seperti Tiongkok dan India benar-benar menjadi peluang besar untuk Indonesia. Jadi, ada kaitan penting antara proyeksi demografis muslim termasuk di Indonesia dengan demand umat dan berbagai kegiatan seperti keuangan Syariah, sektor riil, dan industri Halal seperti,  makanan dan minuman Halal yang turut memperbesar potensi ekonomi Syariah.

Islam dan Prinsip  Kebangsaan

Islam yang diyakini kebenarannya oleh ummat adalah inner power  yang  dalam realitas historisnya mengejawantah sebagai “Din” dan sekaligus peradaban atau “Hadloroh.” Atas dasar ini, maka umat Islam di Indonesia dalam rentang waktu yang panjang sesungguhnya menggerakkan dan membangun sebuah peradaban bangsa yang didasarkan kepada landasan ajaran Tuhan  yang kokoh yaitu Tauhid dan inilah “Monotheistic Civilization.”

Peradaban monoteistik ialah sebuah peradaban masyarakat ideal yang menekankan pentingnya keyakinan kuat kepada agama sebagai doktrin dan kekuatan sejarah dan kemanusiaan sekaligus. Peradaban ini menyediakan ruang kepada ummat untuk bergerak mewujudkan kemakmuran,  kesejahteraan, keadilan dan kebahagiaan bersama yang dicurahi kemuliaan dan keluhuran transendental Tuhan dan mendorong kemajuan.

Sejalan dengan itu, maka beberapa prinsip dan spirit seperti relijius, liberatif-transformatif, humanis, egaliter, toleran/tasamuh, solider, mempersatukan dan terbuka merupakan bagian yang tak terpisahkan dari harapan atau cita-cita masyarakat ideal seperti apa yang akan diperjuangkan umat Islam ke depan dalam konteks Indonesia. Peradaban ini dibangun dalam kerangka Indonesia dan karena itu sejalan dan menguatkan Pancasila. Islam adalah kekuatan penting bagi Indonesia antara lain karena menyediakan nilai-nilai luhur, menjadi sumber inspirasi dan etik untuk melahirkan manusia yang luhur dan terpilih (Khoiru Ummah) dan mendorong ummat untuk terus menerus berjuang membangun sebuah masyarakat ideal yang dalam al-Qur’an disebut dengan “Baldatun Thoyibatun wa Robbun Ghofur.”

Dalam konteks ini, maka masyarakat “Madinah al-Munawwaroh” saat dipimpin oleh Rasul Muhammad dengan “Piagam Madinah”nya adalah preseden historis, contoh dan sumber inspirasi  bagaimana ajaran Islam diwujudkan atau diimplementasikan dalam konteks kekinian. Diantara prinsip yang masih sangat relevan untuk diwujudkan saat ini ialah apa yang disebut dengan “Muakhoh” yaitu mempersaudarakan warga. Konsep ini bersinggungan kuat dengan apa yang disebut dalam al-Qur’an dengan “Ikhwah” dan “Ukhuwah.” Dalam kausa kata perbincangan kebangsaan di kalangan umat ada beberapa katagori Ukhuwah Islamiyah, Ukhuwah Basyariyah, Ukhuwah Insaniyah dan Ukhuwah Wathoniyah. Term ini, sangat relevan dengan perbincangan tentang integrasi dan penguatan bangsa yang dalam sejarahnya di Indonesia sering mengalami goncangan.

Contoh prinsip lain yang diintrodusir dari Piagam Madinah, sebagaimana yang sudah disebut di atas, ialah menghargai/menghormati perbedaan pandangan, ideologi dan bahkan agama yang dianut oleh warga. Eksistensi agama agama harus mendapat perlindungan oleh siapapun termasuk negara; tidak boleh ada diskriminasi atas nama agama dan atas nama apapun. Pembelaan dan perlindungan terhadap sesama manusia/warga dan bahkan wilayah dan hukum juga salah satu prinsip penting. Masih banyak prinsip lainnya yang sangat relevan yang bisa dieksplorasi dari ajaran Islam misalnya keadilan dan kejujuran. Ditambah lagi dengan sifat-sifat wajib Rasul yang juga masih sangat dibutuhkan dalam kepemimpinan sosial, keagamaan dan politik Indonesia saat ini.

Semua ini merupakan modal dasar yang dimiliki umat bagi upaya membangun Indonesia yang berkeadaban. [***]

Sudarnoto Abdul Hakim

Ketua Komisi Pendidikan Majelis Ulama Indonesia dan Dewan Pakar Kornas Fokal IMM